Wisata Kota Tua Surabaya: Rute Jalan Kaki dari Tugu Pahlawan sampai Ampel

Wisata kota tua Surabaya cukup ditempuh setengah hari dengan berjalan kaki. Rute intinya, dari Tugu Pahlawan ke Jembatan Merah, pecinan Kembang Jepun, lalu Masjid Ampel, berjarak sekitar 4–5 km. Sebagian besar titiknya gratis, tiket museum hanya Rp8.000, dan kendaraan wisata tersedia bagi yang tidak kuat berjalan jauh.

Jembatan Merah berpagar merah dan bangunan lama di kawasan wisata kota tua Surabaya
Jembatan Merah di atas Kalimas, Februari 2025. Foto: Bahnfrend, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.

Ringkasan singkat

  • Kawasan: Kota Lama Surabaya di Krembangan, Pabean Cantikan, dan Semampir, diluncurkan Pemkot pada Juli 2024.
  • Empat zona: Eropa (Jembatan Merah, Jalan Rajawali), Pecinan (Kembang Jepun), Arab, dan Melayu (Ampel).
  • Tiket: kawasan gratis; Museum Sepuluh Nopember Rp8.000, tutup Senin.
  • Waktu terbaik: museum pagi hari, zona Eropa sore, Kya-Kya Jumat–Minggu malam.
  • Dari Malang: travel Malang Surabaya bisa menurunkan Anda di Tugu Pahlawan.
Daftar isi

Apa itu Kota Lama Surabaya?

Kota Lama Surabaya adalah kawasan bersejarah di Surabaya Utara yang ditata ulang Pemerintah Kota Surabaya sebagai destinasi wisata. Wali Kota Eri Cahyadi meresmikannya pada 3 Juli 2024 di Jalan Rajawali, menurut detikJatim dan Suara Surabaya.

Kawasan ini dibagi menjadi empat zona sesuai sejarah permukimannya: Eropa, Pecinan, Arab, dan Melayu. Semuanya berupa ruang publik, jadi Anda bisa berkeliling tanpa tiket masuk. Biaya hanya muncul untuk museum, kendaraan wisata, dan jajan.

Rute wisata kota tua Surabaya setengah hari

Rute berikut dimulai dari selatan kawasan dan bergerak ke utara. Jarak dihitung dengan peta OpenStreetMap, dengan kecepatan jalan kaki sekitar 5 km per jam.

  1. Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember (08.00–10.00). Mulai di sini karena museum tutup pukul 15.00.
  2. Jalan ke Jembatan Merah, sekitar 1,3 km atau 18 menit.
  3. Zona Eropa: Gedung Internatio, Gedung Cerutu, dan Taman Sejarah, semuanya dalam radius 200 meter dari Jembatan Merah.
  4. Klenteng Hok An Kiong di Jalan Coklat, sekitar 600 meter atau 8 menit dari Jembatan Merah.
  5. Kembang Jepun, sekitar 10 menit dari klenteng.
  6. Masjid dan Makam Sunan Ampel, sekitar 900 meter atau 12 menit dari Kembang Jepun.

Total jalan kakinya sekitar 4–5 km. Kalau Anda datang bersama anak atau lansia, ganti potongan Tugu Pahlawan–Jembatan Merah dengan becak atau kendaraan daring.

TitikJam bukaTiket
Museum Sepuluh NopemberSelasa–Minggu 08.00–15.00, Senin tutupRp8.000 umum, Rp15.000 wisatawan asing
Jembatan Merah dan zona EropaRuang publikGratis
Kya-Kya Kembang JepunJumat–Minggu 18.00–22.00Gratis masuk
Masjid Sunan AmpelPagi sampai soreGratis, bayar parkir
Museum Surabaya (Gedung Siola)Selasa–Minggu 08.00–15.00, Senin tutupGratis

Data jam dan tiket museum berasal dari situs resmi museum Pemkot Surabaya (diakses Oktober 2026). Beberapa media menyebut jam yang berbeda, jadi cek ulang sebelum datang, terutama saat libur nasional.

Zona Eropa: Jembatan Merah dan Jalan Rajawali

Zona Eropa adalah bagian paling fotogenik dari kawasan ini. Jembatan Merah dibangun pada 1809 dan menghubungkan Jalan Rajawali dengan Kembang Jepun. Di dekat jembatan ini Brigadir Jenderal Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945, peristiwa yang memicu Pertempuran 10 November.

Bangunan yang bisa Anda nikmati di sekitarnya:

  • Gedung Internatio, gedung tiga lantai di dekat Jembatan Merah Plaza yang sering dipakai untuk acara.
  • Gedung Cerutu di Jalan Rajawali 7, dibangun 1916 dengan menara berbentuk cerutu. Gedung ini kantor, jadi dinikmati dari luar.
  • Gedung PTPN XI di Jalan Merak 1, bekas kantor pusat perusahaan dagang Belanda.
  • Taman Sejarah, titik kumpul kawasan dengan lampu taman yang menyala di malam hari.

Sore hari, setelah pukul 15.00, adalah waktu terbaik di zona ini. Udara lebih teduh, dan Antara (Agustus 2024) menyebut Jembatan Merah sebagai tempat menikmati matahari terbenam.

Gedung Cerutu bermenara bulat di Jalan Rajawali kawasan Kota Lama Surabaya
Gedung Cerutu di Jalan Rajawali, Februari 2025. Foto: Bahnfrend, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.

Zona Pecinan dan Arab

Zona Pecinan berpusat di Kembang Jepun. Klenteng Hok An Kiong di Jalan Coklat dibangun sekitar 1821 dengan gaya arsitektur Fujian, dan menjadi salah satu klenteng tertua di Surabaya. Hormati umat yang sedang beribadah dan tanyakan dulu sebelum memotret bagian dalam.

Pada Jumat, Sabtu, dan Minggu pukul 18.00–22.00, Kembang Jepun berubah menjadi Kya-Kya, pusat kuliner pecinan yang menutup jalan untuk kendaraan. Kalau ingin lanjut makan setelahnya, pilihan kuliner malam Surabaya yang buka sampai dini hari tersebar tidak jauh dari sini.

Zona Arab berada di sekitar Jalan KH Mas Mansyur dan Masjid Sunan Ampel. Masuknya gratis, tetapi berpakaianlah sopan: celana atau rok panjang, dan kerudung bagi perempuan. Memotret area makam tidak diperbolehkan.

Catatan House of Sampoerna. Museum di bekas pabrik rokok ini dilaporkan tutup sejak pandemi, dan portal Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur mencantumkan status tutup sementara. Gedungnya tetap bisa dilihat dari luar, sekitar 15 menit jalan kaki dari Jembatan Merah.

Toerwagen, becak, dan transportasi di dalam kawasan

Kalau tidak ingin berjalan jauh, Pemkot menyediakan beberapa pilihan kendaraan wisata. Tarif berikut berasal dari Antara (Agustus 2024) dan detikJatim (Januari 2025), sehingga bisa berubah.

KendaraanTarifCatatan
Toerwagen (mobil listrik klasik)Rp20.000 per orangSekitar 30 menit keliling zona Eropa, mulai dari Taman Sejarah
Becak tradisional atau listrikRp20.000 per becakCocok untuk lansia dan anak
Sepeda onthelRp20.000 per jamSekitar 15.00–20.00
Jeep kunoRp45.000 per orangSabtu–Minggu, perlu reservasi daring

Suroboyo Bus juga melewati kawasan ini, termasuk halte Rajawali, Jembatan Merah, dan Tugu Pahlawan. Tarifnya Rp5.000 dan pembayaran nontunai.

Persiapan sebelum berkeliling

Sebagian besar rute berada di ruang terbuka, dan siang hari di Surabaya Utara bisa terasa terik. Beberapa persiapan sederhana membuat jalan kaki lebih nyaman:

  • Sepatu yang nyaman, karena trotoar di beberapa ruas tidak rata.
  • Topi dan air minum, terutama untuk potongan Tugu Pahlawan ke Jembatan Merah.
  • Pakaian sopan dan kerudung kalau Anda berencana masuk ke kawasan Ampel.
  • Uang nontunai untuk Suroboyo Bus dan tiket museum yang bisa dipesan daring.

Bagaimana cara ke Kota Lama dari Malang?

Cara paling praktis dari Malang adalah naik travel door to door dan minta diturunkan langsung di Tugu Pahlawan. Perjalanan Malang–Surabaya sekitar 2–3 jam via tol, jadi berangkat dengan jadwal 05.00 atau 07.00 untuk tiba sebelum museum ramai.

Makuta Travel melayani travel Malang Surabaya 8 kali sehari, pukul 01.00 sampai 15.00, dengan tarif Rp150.000 per orang. Untuk pulang, travel Surabaya Malang berangkat pukul 09.00 sampai 21.00. Kalau ingin menutup hari di Kya-Kya, pilih jadwal pulang 21.00 dan beri tahu CS titik penjemputan Anda.

RencanaBerangkat dari MalangPulang dari Surabaya
Setengah hari, tanpa Kya-Kya05.0015.00 atau 17.00
Seharian plus Kya-Kya (Jumat–Minggu)07.0021.00

Wisata sejarah Surabaya bisa disambung dengan Museum Kapal Selam di Jalan Pemuda, sekitar 15 menit berkendara dari Tugu Pahlawan.

Kesimpulan

Wisata kota tua Surabaya paling nyaman dimulai pagi hari di Museum Sepuluh Nopember, lalu berlanjut ke zona Eropa, pecinan, dan Ampel dengan berjalan kaki sekitar 4–5 km. Hindari hari Senin karena museum tutup, dan datang Jumat sampai Minggu kalau ingin menikmati Kya-Kya di malam hari.

Untuk perjalanan pulang-pergi dari Malang, kirim alamat penjemputan dan titik turun di Kota Lama ke CS Makuta Travel lewat WhatsApp untuk memesan kursi travel door to door.

Jalan-jalan ke Kota Lama tanpa pusing parkir

Kirim alamat penjemputan di Malang dan titik turun di Surabaya, misalnya Tugu Pahlawan. CS kami juga mengatur jemputan pulangnya, 24 jam lewat WhatsApp.

Pesan via WhatsApp

Dipublikasikan 10 Oktober 2026. Terakhir diperbarui 10 Oktober 2026.